MAKALAH PTK

BAB  I

PENDAHULUAN

 

  • Latar Belakang Masalah

Ada empat keterampilan berbahasa yang harus mampu dikuasai siswa, yakni menyimak, berbicara, membaca , dan menulis. Seiring dengan lajunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka keempat keterampilan tersebut memegang peranan yang sangat penting dalam berbagai kesempatan. Dari observasi di lapangan yang penulis lakukan keempat keterampilan berbahasa tersebut, banyak orang terutama siswa di sekolah  beranggapan menulis merupakan bagian yang paling tinggi tingkat kesulitannya. Hal itu disebabkan oleh keharusan dalam penguasaan berbagai unsur kebahasaan dan unsur non kebahasaan yang merupakan materi penting dalam kegiatan menulis.

Jika dalam keterampilan berbicara orang harus menguasai lambang bunyi, dalam kegiatan menulis orang harus menguasai simbol-simbol visual dan aturan tata tulis. Keterampilan menulis yang baik dapat diperoleh dengan latihan yang berulang-ulang dan memerlukan waktu yang tidak sebentar, mengingat sangat komplek dalam arti melibatkan berbagai keterampilan untuk mengungkapkan ide, pikiran, pengetahuan, dan pengalaman-pengalaman hidup dalam bentuk bahasa tulis yang jelas, runtun, ekspresif, dan mudah dipahami.

Pembelajaran menulis sudah sejak lama dilaksanakan dengan berbagai metode namun sampai sekarang belum ada hasil yang optimal. Hal tersebut seperti dikatakan oleh Sutama dkk. (1998 dalam Nurhayati 2000:13) “Siswa belum dapat dikatakan mampu berbahasa Indonesia secara baik dan benar, baik lisan maupun tulisan, mulai Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Menengah Pertama.” Siswa masih bingung dan mengalami kesulitan ketika harus menulis. Fenomena tersebut memunculkan upaya sebagai bentuk solusi mengatasi permasalahan tersebut.

Pembelajaran sastra sebagai salah satu pelajaran di sekolah Menengah Pertama  memiliki keterkaitan dengan pembelajaran menulis. Sebagai salah satu mata pelajaran yang kurang mendapat perhatian dari siswa. Sastra menjadi mata pelajaran yang sulit untuk dipelajari siswa. Menulis dalam pembelajaran sastra juga merupakan keterampilan yang sangat minim dikuasai oleh siswa.

Banyak hal yang menjadi penyebab kurang diperhatikannya pembelajaran sastra disekolah (1) materi yang diberikan bukan oleh guru yang memiliki keahlian di bidangnya, (2) mitos negatif diseputar dunia sastra, (3) dunia sastra yang selalu terpencil, (4) kesalahan konsep dalam pembelajaran sastra, (5) minimnya jumlah buku pelajaran dan dongeng lama tentang keterbatasan alokasi waktu pembelajaran (Jamaludin 2004).

Sesuai dengan KTSP (Kurikulum 2006) pembelajaran menulis awal yang akan diberikan kepada siswa kelas IX SMP adalah menulis cerpen. Siswa akan merasakan kejenuhan dan kesulitan jika pembelajaran dilakukan secara klasikal, karena membuat siswa cenderung menganggap guru sebagai pihak yang mutlak benar. Selain itu, guru hanya sebagai pusat perhatian dan siswa cenderung sebagai pendengar pasif. Dengan demikian siswa tidak diberi kesempatan menyampaikan ide atau gagasan. Hal ini tidak sesuai dengan tujuan kurikulum 2006, yang isinya terdapat pendekatan kontekstual.

Tulisan imajinatif merupakan wujud tulisan kreatif yang berupa novel, cerpen, ataupun puisi. Dalam makalah ini dipilih cerpen sebagai objek penulisan. Alasan pemilihan cerpen sebagai objek penulisan di SMPN I Cisurupan adalah:

  1. Menulis cerpen tidak memakan waktu yang lama, disebabkan cerpen lebih pendek hanya satu peristiwa dengan menonjolkan satu tokoh utama dibanding dengan novel.
  2. Bahasa yang digunakan dalam cerpen merupakan bahasa yang sederhana jika dibanding dengan bahasa dalam puisi yang kalimatnya singkat dapat merangkum semua ide cerita atau tema.
  3. Cerpen dapat dibaca sekali duduk kira-kira antara setengah sampai dua jam.

Dilapangan yang terjadi bahwa keterampilan menulis cerpen yang diajarkan di sekolah selama ini menggunakan metode klasikal atau metode konvensional, yakni ceramah tanpa disertai upaya dari guru guna menarik perhatian siswa. Dengan metode tersebut seringkali menimbulkan kebosanan bagi siswa sehingga karya yang dihasilkan tidak maksimal.

Guru sebagai penyampai materi kepada siswa harus dapat menyampaikan materi yang akan dibahas dengan metode yang menarik. Barangkali akan berdampak pada siswa yang antusias mengikuti pelajaran sehingga siswa akan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru secara sungguh-sungguh.

Keprofesionalan seorang guru dituntut demi kelancaran proses belajar mengajar, dalam hal ini paling tidak ada lima hal khusus yang harus dipenuhi oleh guru. Yang pertama, guru professional memiliki pengertian yang mendalam mengenai tujuan pembelajaran. Kedua, memiliki minat yang besar terhadap dunia pendidikan. Ketiga, memiliki pemahaman dan kemampuan dalam bidang pendidikan. Keempat, guru professional memiliki kemampuan selektif dalam menentukan maupun menerapkan suatu metode pembelajaran. Kelima, komitmen yang tinggi serta tanggung jawab terhadap pembinaan dan pengembangan pendidikan (Jamaludin 2004 ).

Seiring dengan berlakunya KTSP (Kurikulum 2006) yang di dalamnya terdapat pendekatan kontekstual, guru dapat menggunakan pendekatan tersebut. Pendekatan kontekstual memandang siswa sebagai insan yang berpotensi dan membantu guru mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi nyata siswa, serta mendorong untuk mengaitkan pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan di masyarakat (Diknas 2002).

Dengan menghadapi siswa pada objek nyata akan menstimulus siswa untuk menulis cerpen dengan tingkat kesulitan menjadi berkurang. Menurut Anderson (1994), pemanfaatan objek secara nyata akan memberikan rangsangan yang penting bagi siswa dalam mempelajari tugas yang bersifat keterampilan, termasuk keterampilan menulis. Objek nyata dalam hal ini adalah metode karya wisata.

Metode karya wisata merupakan metode alternatif yang memiliki beberapa kelebihan di antaranya (1) membuat pengalaman edukatif dan pribadi yang bermutu,(2) membentuk pengalaman sensorik, siswa dapat merasakan secara langsung peristiwa yang sebenarnya, (3) memperdalam pengalaman tentang gejala alam, (4) menumbuhkan rasa puas dan senang terhadap siswa,(5) menumbuhkan minat dan perhatian siswa terhadap kegiatan dan benda-benda sekitarnya, (6) melebur pembelajaran sekolah kedalam lingkungan sekolah yang lebih luas.(7) memperkaya khasanah pengetahuan secara horizontal dan vertikal, dan mengembangkan karakter pergaulan dengan lingkungan (Wijaya dan Rusyan,1991).

Hasil observasi yang dilakukan di kelas IX I SMPN I Cisurupan Kabupaten Garut, kompetensi dasar menulis telah diajarkan tetapi hasil dari pembelajaran belum mencapai kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan yaitu 70. Hal ini disebabkan pembelajaran menulis cerpen masih menggunakan metode ceramah dan waktu menulis cerpenpun relatif singkat sehingga belum diketahui siswa menguasai kompetensi dasar tersebut atau belum.

Metode karya wisata dapat diaplikasikan agar aktifitas menulis menjadi kegiatan yang menarik sehingga menulis cerpen mendapat perhatian dari siswa yang selama ini tidak memperhatikannya. Dengan pemilihan metode Karya Wisata diharapkan dapat mewujudkan tercapainya tujuan pembelajaran ini dan berkembangnya budaya tradisi menulis.

 

 

  • Pembatasan Masalah

Penulis memilih kelas IX I SMPN I Cisurupan sebagai subjek kajian karena memang siswa di kelas tersebut dalam pembelajaran menulis cerpen kurang bersemangat dan kurang bisa mendapatkan imajinasi. Agar siswa merasa tidak jenuh dan merasa senang maka mereka diajak guru mengamati objek wisata yang berada di sekitar lingkungan yang tidak terlalu jauh dari sekolah.

Tujuannya supaya siswa tidak merasa jenuh dan lebih mudah mendapatkan imajinasi, sehinggga mereka memperoleh pengalaman yang menyenangkan. Untuk itu penulis membatasi permasalahan pada upaya meningkatkan keterampilan menulis cerpen dengan metode karya wisata siswa kelas IX I SMPN I Cisurupan dengan tujuan mempermudah siswa dalam mengembangkan keterampilan menulis cerpen.

 

  • Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat di rumuskan beberapa pokok permasalah diantaranya :

  1. Bagaimanakah upaya meningkatkan hasil belajar siswa  dengan menggunakan metode karya wisata pada keterampilan menulis cerpen dari peristiwa yang pernah dialami di kelas IX I SMPN I Cisurupan ?
  2. Bagaimanakah perubahan prilaku pada siswa kelas IX I SMPN I Cisurupan dalam mengikuti proses pembelajaran menulis cerpen dengan metode karya wisata ?

 

  • Maksud dan Tujuan Penyusunan

Penulis bermaksud  ingin mengetahui sejauhmana metode karya wisata mempermudah siswa dalam mengembangkan keterampilan menulis cerpen. Sedangkan tujuan yang diharapkan untuk menambah ilmu, wawasan dan pengetahuan kami khususnya dan siapa saja yang memerlukannya tentang menulis cerpen dengan mengunakan metode karya wisata.

 

  • Manfaat Penulisan

Penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik bagi siswa, guru sekolah. Bagi siswa, untuk mempermudah siswa dalam berlatih dan belajar keterampilan menulis khususnya menulis cerpen. Bagi guru sebagai upaya peningkatan kualitas dan prestasi khususnya mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, sebagai masukan agar dalam pembelajaran menulis cerpen yang akan datang guru dapat menerapkan strategi pembelajaran yang menunjang peningkatan kemampuan menulis cerpen sehingga prestasi siswa dapat meningkat.

Bagi sekolah yaitu dapat memberikan semangat dan motivasi bagi guru-guru di sekolah tersebut untuk melaksanakan penelitian-penelitian yang berkaitan dengan peningkatan prestasi siswa. Dan bagi penulis mendapatkan pengalaman langsung pelaksanaan pembelajaran menulis cerpen yang efektif dalam meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa kelas IX I SMPN I Cisurupan.

 

BAB  II

PEMBAHASAN

 

  • Tinjauan Pustaka

Ada beberapa penelitian di bawah ini  berisi tentang teknik pembelajaran menulis yang dijadikan bahan pertimbangan menulis karya tulis ini. Ringkasan penelitian ini antara lain dilakukan oleh Fahrudin (2003), Astuti (2004), dan Nopita (2007)

Fahrudin (2003), Yang berjudul Peningkatan Kemampuan Menulis Argumentasi melalui Gambar Karikatur di Media Masa pada Siswa Kelas II SMP Negeri 5 Bandung Tahun Ajaran 2002- 2003, peneliti memandang bahwa dengan menggunakan gambar karikatur akan mendorong siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran guna meningkatkan kemampuan menulis argumentasi. Keterampilan menulis masih perlu ditingkatkan dengan berbagai upaya sehingga setelah melalui gambar karikatur kemampuan menulis argumentasi dapat ditingkatkan maka keterampilan menulis cerpen diupayakan peningkatannya dengan menggunakan metode karya wisata.

Astuti (2004), Yang berjudul Peningkatan Kemampuan Menulis Karangan melalui Media Audiovisual pada Siswa Kelas I SMP Muhammadiyah Bandung, peneliti ini menunjukkan hasil bahwa penggunaan media audiovisual dapat meningkatkan minat siswa dalam menulis karangan. Jika pada media audiovisual siswa diajak untuk mendengarkan dan melihat maka pada metode karya wisata diajak untuk melihat langsung dan menghayatinya.

Sementara dalam penelitian yang berjudul Peningkatan kemampuan Menulis Puisi dengan Metode Karya Wisata pada Siswa Kelas VIII SMP 5 Bandung , yang ditulis Nopita (2007), menemukan bahwa dengan menggunakan metode karya wisata siswa merasa mempunyai bahan yang sangat membantu untuk mendeskkripsikan sesuatu dalam tulisan kretif dan terperinci. Jadi kesimpulan dari  metode karya wisata dapat meningkatkan kemampuan menulis puisi maka penulis berpendapat bahwa metode karya wisata juga dapat meningkatkan keterampilan dalam menulis cerpen.

Penelitian tentang pembelajaran menulis cerpen yang penulis lakukan dengan metode karya wisata menjadi pelanjut dan pelengkap sebagai upaya memperkaya metode pembelajaran menulis di sekolah. Oleh karena itu, yang menjadi pembeda dalam penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah penelitian ini memuat sejumlah persoalan mendasar tentang masih rendahnya kemampuan menulis cerpen bagi siswa, baik dari faktor guru, metode pembelajaran, ataupun dari faktor siswa itu sendiri. Metode karya wisata sebagai metode yang digunakan pada penelitian ini dipandang mampu meningkatkan keterampilan menulis cerpen. Hal ini disebabkan siswa akan terstimulus untuk menuangkan idenya dalam menulis cerpen.

 

  • Landasan teori

Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah menulis, cerita pendek, pembelajaran menulis, metode karya wisata dan pembelajaran menulis cerpen dengan metode karya wisata.

 

2.2.1  Hakikat Cerita Pendek

Cerpen memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan karya sastra lainnya seperti roman dan novel. Ciri-ciri tersebut diungkapkan oleh Notosusanto I dalam Tarigan 1986 ), yang menyebutkan bahwa cerpen adalah cerita yang panjangnya sekitar 5000 kata/kira-kira 17 halaman spasi rangkap yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri. Sedangkan menurut Edgar ( dalam Haryati 2004) adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk. Kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam.

Ciri yang lain disebut oleh Sumardjo (1986) yakni bahwa cerpen adalah cerita bentuk prosa yang relatif pendek. Ukuran pendek disini diartikan  dibaca sekali duduk dalam kurun waktu kurang dari satu jam. Dikatakan pendek karena cerpen hanya memiliki efek tunggal, karakter, plot, dan setting yang terbatas, tidak beragam dan tidak komplek.

Sarwadi (dalam Susiati 2000 ), menyatakan bahwa cerpen adalah cerita fiksi bentuk prosa yang singkat, padat, dan unsur ceritanya terpusat pada satu peristiwa sehingga jumlah dan pengembangan pelaku terbatas dan keseluruhan cerita memberi kesan tunggal. Kesan tunggal tersebut terlihat dari peristiwanya yang tidak mengubah nasib pelaku.

Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian cerpen adalah suatu cerita yang relatif pendek, singkat, padat, terutama sekali cerita yang hanya memiliki efek tunggal dan bisa dibaca dalam satu kali duduk.

2.2.2  Unsur-Unsur Pembangun Cerita Pendek

Cerpen tersusun atas unsur-unsur pembangun cerita yang saling berkaitan erat antara satu dengan yang lainnya. Keterkaitan unsur-unsur pembangun tersebut membentuk totalitas yang abstrak. Koherensi dan kepanduan semua unsur cerpen yang membentuk sebuah totalitas amat menentukan keindahan dan keberhasilan cerpen sebagai suatu cipta sastra. Unsur-unsur tersebut terdiri dari tema, alur (plot), tokoh dan perwatakan, latar ( setting), sudut pandang (point of view), amanat/pesan, gaya bahasa yang digunakan (style). (Rahmanto 1997).

Unsur pertama dalam cerpen yakni alur atau plot. Pengertian alur dalam cerpen pada karya fiksi umumnya adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjamin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita ( Aminuddin 1987).

Dilihat dari cara menyusun bagian-bagian alur tersebut, alur dapat dibedakan menjadi alur lurus, alur sorot balik (flas back), dan alur campuran. Disebut alur lurus apabila cerita disusun dari kejadian awal diteruskan kejadian-kejadin berikutnya dan diakhiri dengan pemecahan masalah. Apabila suatu cerita dususun sebaliknya, yakni dari bagian akhir kebagian awal maka disebut alur sorot balik. Terakhir alur campuran adalah gabungan dari sebagian alur lurus dan sebagian lagi alur sorot balik. Tetapi keduanya dijalin dalam kesatuan yang padu sehingga tidak menimbulkan kesan ada dua cerita/peristiwa yang terpisah, baik waktu maupun tempat kejadiannya. ( Suharianto, 1982 )

Unsur yang kedua adalah tokoh, yaitu individu rekaan yang mengalami peristiwa dalam cerita/berkelakuan dalam cerita ( Sudjiman 1992). Tokoh dalam cerita rekaan bersifat fiktif. Tetapi harus disadari pula bahwa tokoh dalam cerita rekaan tidak sama persis dengan manusia pada dunia nyata. Tokoh rekaan tidak sepenuhnya bebas, ia merupakan bagian dari suatu keutuhan artistic, yaitu karya sastra.

Penokohan menurut Aminudin (1997:97), yakni cara pandang pengarang dalam menyajikan tokoh atau pelaku. Menurut Suharianto ( 1982: 31), Penokohan adalah gambaran mengenai tokoh cerita baik keadaan lahirnya maupun batinnya yang dapat berupa pandangan hidupnya, sikap keyakinan, adat istiadat dan sebagainya. Disini pengarang memunculkan karakter tokoh, seperti melalui raut muka atau kebiasaan tokoh dalam menghadapi permasalahan.

Unsur selanjutnya adalah mengenai latar/ setting memiliki pengertian segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam karya sastra (Sudjiman 1992:44) membedakan latar menjadi dua, yakni latar social dan latar fisik (material). Latar mencakupi penggambaran keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, adat kebiasaan, cara hidup, bahasa yang melatari peristiwa.  Adapun latar fisik mengenai tempat didalam wujud fisiknya bisa bangunan, daerah/lokasi atau kerangka kerja dimana unsur-unsur lain dibangun, selain waktu dan tempat, latar juga menggambarkan suasana yang terjadi pada peristiwa tersebut.

Sudut pandang atau point of view  yaitu cara pandang pengarang dalam menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkannya (Aminudin 1987:90) Sudut pandang mengarah pada cara sebuah pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca.

Menurut Stanto ( dalam Rakmanto 1997:2-16), sudut pandang diartikan posisi pengarang terhadap peristiwa dalam cerita. Pengarang dapat memposisikan sebagai orang pertama pelaku utama, kedua, ketiga atau sebagai peninjau.

Selanjutnya unsur gaya yang erat hubungannya dengan nada cerita. Gaya merupakan cara pemakaian bahasa yang spesifik dengan seorang pengarang. Pengertian gaya dikemukakan oleh beberapa pengarang seperti berikut, gaya adalah cara pengarang menggunakan bahasa (Pradopo 1985:28. Menurut Keraf (2004:113),

Unsur lain yang tidak kalah pentingnya adalah ide sebuah cerita yang disebut tema (Sumardjo 1986:56). Setiap pengarang memilki ide cerita yang berbeda-beda sehingga ketika ada seratus pengarang maka akan ada seratus ide cerita. Brooks dan Warre (dalam Tarigan 1986:56), mengatakan bahwa tema adalah unsur dasar  suatu cerita/novel mengenai kehidupan rangkaian nilai-nilai tertentu yang membangun dasar/gagasan utama dari suatu karya sastra. Tema suatu karya sastra dapat tersurat dan dapat pula tersirat, jadi tema dapat langsung diketahui tanpa penghayatan atau melalui penghayatan.

2.2.4  Pembelajaran Menulis Cerpen

Ada berbagai cara dalam menulis cerpen, mulai cara menulis pembukaan, tokoh, alur, latar dan penyelesaiannya. Cara pembukaan cerpen dapat dimulai dari tokoh, alur, ataupun latar, Nasharyati ( Sanggar sastra 2004).

  1. Cara menulis pembuka cerpen

Dalam menulis tokoh yang hidup ada hal-hal yang perlu diperhatikan nama tokoh, usia, deskripsi fisik, dan hubungannya dengan tokoh lain atau hubungan dengan peristiwa yang dijalaninya. Tujuan dari hal-hal tersebut adalah agar tokoh yang digambarkan oleh pengarang benar-benar kelihatan hidup dan ada dalam kehidupan yang nyata.

Perempuan itu terhuyung-huyung, lalu sesaat kemudian jatuh tersungkur. Seperti telah memunggah beban berat dari pundaknya, dia tak sadarkan diri. Tergolek dalam semak belukar rimba raya yang hebat. Dia seolah lelap tertidur. Kelihatan kumuh, pakaian yang robekrobek, rambut yang acak-acakan dan tubuh yang tergores-gores, perempuan itu menyiratkan kecantikan yang perkasa. Telapak kakinya yang merah jambu pecah-pecah. Disana sini berdarah. Kuku-kuku jari kaki dan tangannya yang memanjang, tentunya dapat dihentikan pertumbuhannya. Dia juga tidak berhasil menyembunyikan tubuhnya yang indah, bahkan ketika tubuh itu tak sempat lagi dirawat. Setiap langkah dalam setiap saat baginya merupakan waktu yang sangat menentukan jalan hidupnya. (Sawitri, 2002, Danarto )

 

Kutipan pembuka cerpen di atas merupakan deskripsi orang. Mulai dari penggambaran kecantikannya sampai dengan kecantikannya yang tidak terawat. Selain itu ada juga pembuka yang menggunakan deskripsi tempat. Hal ini dapat kita lihat kutipan berikut ini.

Dari Jakarta yang sangat panas, penuh gedung pencakar langit, penuh polusi dan juga gudangnya copet. Kini, aku berada di Ra’as. Sebuahn pulau yang kecil sebelahnya Madura. Di Ra’as, sangat primitif sekali, mulai dari jalan-jalan yang belum di aspal sampai dengan bangunan rumah tingkat di sana.

 

Pembuka cerpen di atas merupakan pembuka yang menggunakan deskripsi tempat. Mulai dari Jakarta yang sangat panas sampai Ra’as yang tidak ada bangunan bertingkat. Dari deskripsi tersebut sudah terasakan adanya konflik yaitu konflik yang dibangun oleh masalah (budaya) tempat. Konflik tokoh dibangun melalui konflik tempat.

  1. Cara menulis tokoh yang hidup

Nayla mulai merasa dadanya sangat berdebar. Semangatnya bergetar. Ia ingin menampar suaminya jika yang kurang ajar. Ia ingin ngebut tanpa mengenakan sabuk pengaman. Ia ingin bersendawa keras-keras di depan mertua dan ipar-iparnya. Ia ingin berjemur di tepi pantai dengan tubuh telanjang. Ia ingin mengatakan ia senang bercinta dari posisi dari belakang. Ia ingin mewarnai rambutnya bak Dennis Rodman. Ia ingin berhenti minum jamu susut perut dan sari rapet. Ia ingin memelihara anjing, kucing, babi, penguin, panda dan beruang masing-masing satu pasang. Ia ingin makan soto betawi sekaligus dua mangkuk besar. Ia ingin berhenti hanya makan sayur dan buah-buahan waktu malam. (Waktu Nayla. 2003, Jenar Maesa Ayu)

Kutipan cerpen di atas menggambarkan tokoh yang hidup, mengapa ? Hal ini disebabkan tokoh Nayla seperti benar-benar yang hidup. Ia merasa sangat jengkel dengan suaminya. Ia berkeinginan untuk bebas. Jadi karakter (psikolog) sang tokoh benar-benar terbangun. Sebagai seorang penulis cerpen, tokoh-tokoh yang Anda bangun juga harus sesuai dengan kenyataan, yakni antara lain dengan memunculkan gairah hidup tokoh yang berhubungan dengan banyak hal disekitarnya.

Diponegoro (1985:97) menyatakan bahwa cerpen yang enak dibaca adalah cerpen yang mengandung dialog 10 sampai 50 persen. Kurang dari 10 persen akan membeku cerpen tersebut menjadi lamban, berat, dan serius. Sebaliknya, jika gaya penulisan obral dialog (50 persen ke atas) membuat cerpen tersebut menjadi ringan dan cengeng. Lebih lanjut Diponegoro menyatakan bahwa dialog mempunyai empat fungsi, yakni : (1) mengungkapkan watak tokoh cerita, (2) menunjuk emosi pembicara, (3) member plot, dan (4) memunculkan konflik atau pendeknya, menggerakan plot.

Dialog tokoh memang sangat diperlukan dalam menulis cerpen, supaya cerpen tidak beku atau kering. Contoh di bawah ini mengajak kita untuk memasuki wilayah konflik melalui pintu dialog tokoh.

Ibu yang sejak tadi menangis terisak, langsung menubruk tubuhku. Kurasa air matanya yang hangat menetes di pipiku.

“Tinggalkan kami bajingan tua!” Kutuk sang ibu dengan sangat gemetar.

Bapak tertawa sinis. “Justru kamu yang harus pergi. Aku tidak ingin anakku dididik pelacur malang seperti kamu.”

“Bagaimanapun dia anakku. Aku yang mengandungnya. Kau tidak lebih dari pejantan…”

“Dasar mulut ember! Kamu mestinya merasa bersyukur karena aku menitipkan benihku di rahimmu!”     ( Malaikat kecil, 2003, Indra Tranggono)

Melalui kutipan di atas, penggambaran tokoh benar-benar hidup. Kutipan cerpen tersebut dapat diketahui bagaimana perwatakan atau karakter tokoh bapak yang sinis, pemarah, dan juga penghujat; dan perwatakan sang ibu yang ketakutan menghadapi suaminya. Kedua tokoh tersebut melalui konflik dialog seolah-olah benar-benar ada.

  1. Cara menulis alur yang hidup

Alur adalah rangkaian peristiwa yang terdapat dalam karya sastra. Alur dapat dibuat melalui jalinan waktu, maupun hubungan sebab akibat. Alur secara garis besar terbagi menjadi tiga bagian, yakni awal ( perkenalan), tengah (konflik), dan akhir (penyelesaian). Jika kita membuat cerpen, maka sebaiknya menggunakan tiga bagian tersebut, agar tulisan kita menjadi hidup. Ketiga hal ini merupakan tiga pilar utama yang selalu dihayati dalam setiap membuat cerpen. Prosentase ketiganya memang berbeda-beda, tergantung kepada suasana hati, masalah yang disuarakan, kebutuhan akan hiburan, atau misi tersembunyi yang sudah terhayati dengan baik.

  1. Cara menulis latar

Sebuah deskripsi latar yang berhubungan dengan kota Surabaya, misalnya, sungguh menarik bila penulis dapat mengetahui informasinya, menghayatinya, dan memiliki skill untuk menggambarkanya. Deskripsi tentang Jalan Pemuda di kota Pahlawan itu dapat kita lihat pada contoh di bawah ini.

Jalan Pemuda memiliki gengsi tertentu. Hal ini disebabkan jalan itu memiliki sejarah panjang yang berhubungan dengan Belanda, Jepang, dan penguasa pribumi. Di jalan itu ada rumah tempat tinggal orang nomor satu di propinsi Jawa Timur. Baik di musim hujan atau kemarau, rumah gubernur sangat enak dilihat. Orang-orang yang lewat di depannya senantiasa merindukannya untuk suatu saat dapat tidur atau tertidur di situ. Betapa asyiknya.

 

Latar adalah sarana yang utama karena dari latarlah kemudian muncul tokoh, dan dari tokoh kemudian muncul konflik sehingga tercipta alur/cerita (Novakovich, 2003:39). Karena itu pemahaman latar melalui nilai-nilai informasi ( informasi mengenai banyak tempat). Emotif (menghayatinya), dan ekspresif (mengungkapkan kembali demi kepentingan cerita) sangatlah penting. Penulis cerita tak akan dapat menulis kalau di dalam imajinasinya tak ada gambaran latar cerita, baik itu yang bersifat giografis, atau yang sangat abstrak sekalipun.

  1. Cara menulis penyelesaian

Secara garis besar, penyelesaian itu ada tiga jenis, yakni senang, sedih, dan menggantung. Permainan emosi dalam akhir cerpen bergantung pada kehendak penulis, atau tekanan teks yang sudah menggejala kuat selama proses penulisannya. Hal ini dapat kita perhatikan pada contoh di bawah ini.

Akhirnya aku dan orang tuaku bertemukembali, setelah beberapa tahun aku mencarinya. Betapa berbunganya hatiku ini. Bersatu dengan orang tua. Kini ku tak ingin orang memisahkanku dari orang tua. (Penyelesaikan menyenangkan)

 

Air mata itu mengalir deras sekali. Dilihatnya sosok sang suami terbujur kaku. Dua buah libang peluru masih terlihat jelas di kedua belah dadanya. Sekarang, tak ada lagi yang akan menemaninya tertawa dan senda gurau, sebab suaminya telah meninggalkannya terlebih dahulu.  ( Penyelesaian menyedihkan )

 

Tak ada tegur sapa. Tak ada senyum. Orang-orang curiga ketika daun pintu dan jendela rumah Markonah tertutup berhari-hari, berminggu-minggu. Dan para tetangga lantas menemukan jawaban kepastian dari secarik kertas di sisi jasad yang terbujur kaku: Demikialah Allah telah memberiku anugerah. Amalkan bekal agama bagi kedua anakku, kutanamkan pengertian sebagaimana Nabi menyuruhku untuk menjadikannya hitam atau putih. Andaikan pada akhirnya membentangkan jarak seperti cadar gelombang antara perahu Nuh dan Kan’an. Maka aku rela menjadi Kan’an. Bagiku Allah telah amat mengerti … (Penyelesaian menggantung).  (Purdah, 2002, Joni Ariadinata)

 

2.2.5  Metode Karya Wisata

Metode karya wisata adalah cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau objek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu seperti meninjau pabrik, suatu bengkel mobil, toko serba ada, objek wisata dan sebagainya. menurut Saiful (1995:105). Sementara menurut Wijaya dan Rusyan (1991:76) merupakan pesiar atau ekskursi oleh para siswa untuk melengkapi pengalaman belajar tertentu dan merupakan bagian integral dari kurikulum sekolah.

Alternatif metode ini digunakan memiliki beberapa kelebihan, diantaranya (1) karya wisata memiliki prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran. (2) membuat apa yang pelajari di sekolah lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan di masyarakat. (3) pengajaran seperti ini dapat lebih merangsang kreatifitas siswa. (4) informasi sebagai bahan pelajaran lebih luas dan actual (Syaiful 1991:106).

Wijaya dan Rasyan juga mengatakan metode karya wisata juga memiliki beberapa kelebihan, diantaranya (1) membuat pengalaman edukatif dan pribadi yang bermutu, (2) membentuk sensorik siswa dapat merasakan secara langsung peristiwa yang sebenarnya, (3) memperdalam pengalaman-pengalaman tentang gejala alam, (4) menumbuhkan rasa puas terhadap pesertanya, (5) menumbuhkan minat dan perhatian siswa terhadap kegiatan dan benda-benda sekitarnya, (6) melebur pembelajaran sekolah ke dalam lingkungan sekolah yang lebih luas, (7) memperkaya khasanah pengetahuan secara horizontal dan vertical dan mengembangkan karakter pergaulan dengan lingkungan.

Guru mengembangkan metode karya wisata dalam mengajar dengan alasan sebagai berikut :

  1. Pada umumnya proses belajar mengajar diadakan di dalam ruangan, sehingga hal tersebut dapat mengakibatkan kejenuhan pada setiap siswa. Oleh sebab itu untuk mendapatkan suatu gambaran atau ide yang cemerlang, maka metode karya wisata diharapkan akan membantu siswa dalam mencari pikiran-pikiran baru yang sesuai harapan.
  2. Metode karya wisata menjadikan siswa lebih giat belajar, mencari, mengamati, bahkan menyusun atau mengorganisasikan pelajaran sendiri (Depdikbud 1983-1984:85).

 

  • Pembelajaran menulis cerpen dengan metode karya wisata

Pembelajaran cerpen merupakan bagian dari pengajaran sastra hakikatnya merupakan seni, sehingga pengajaran cerpen merupakan pengajaran seni yang ada kaitannya dengan rasa. Oleh karena itu, pengajaran cerpen harus menyentuh perasaan.     Dalam pembelajaran sastra khususnya cerpen perlu menggunakan metode yang tepat, agar siswa bisa menunangkan ide-ide atau gagasan yang ada dalam pikirannya. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode karya wisata. Sebelum siswa berhasil menulis cerpen, siswa melewati beberapa tahap dalam proses kreatif, yang juga berlaku dalam penulisan karya sastra. Tahap-tahap penulisan cerpennya disesuaikan dengan metode karya wisata.

 

2.3  Kerangka Berpikir

Menulis cerpen merupakan salah satu jenis tulisan fiksi. Keterampilan menulis merupakan bagian dari aspek komponen penggunaan dalam kurikulum 2006 yang bertujuan agar siswa mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasa, dan perasaan dalam berbagai bentuk tulisan sastra melalui menulis cerpen, dan menciptakan karya sastra berdasarkan berbagai setting atau latar.

Penggunaan metode karya wisata merupakan salah satu alternative untuk pembelajaran menulis cerpen. Metode karya wisata dapat memudahkan siswa untuk mendapatkan imajinasi yang nantinya akan digunakan untuk bahan penulisan cerpen. Melalui pengamatan pada objek yang sesungguhnya juga akan menambah motivasi belajar siswa dalam menulis cerpen dan sekaligus dapat menambah pengalaman edukatif.

Dalam proses menulis cerpen, siswa harus memahami unsur-unsur pembangun cerpen, baik aspek kebahasaan maupun aspek kesusastraan. Pemahaman siswa mengenai unsur-unsur pembangun cerpen dapat dilihat melalui hasil tulisan siswa. Penulisan cerpen tersebut disesuaikan dengan objek yang akan dijadikan pengamatan supaya siswa dapat menulis cerpen sesuai dengan tema yang telah ditentukan.

Pembelajaran tersebut, peneliti menerapkan dengan pendekatan kontekstual yang menghubungkan pengetahuan yang telah didapat siswa dengan penerapannya di dalam kehidupan nyata mereka dan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual. Dalam praktik pembelajaran berlangsung, masing-masing siswa ditugasi untuk berkelompok sesuai dengan kelompoknya, tujuan dari pengelompokan ini supaya siswa mudah untuk dikondisikan. Masing-masing kelompok ditugasi untuk mengamati objek yang nantinya akan dijadikan bahan penulisan cerpen sesuai tema yang telah ditentukan oleh guru, kemudian siswa ditugasi untuk berdiskusi dengan kelompoknya. Tujuan dari diskusi ini supaya siswa yang satu dengan yang lain dapat memberikan kritik dan saran mengenai hasil tulisan cerpen temannya.

Penilaian yang dilakukan dalam penelitian ini merupakan penilaian hasil dan penilaian proses. Pada akhir pembelajaran, guru mengadakan refleksi dengan tujuan pengalaman yang telah didapat akan dimasukan dalam struktur kognitif siswa yang akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya.

 

  • Hipotesis Tindakan

Berdasarkan landasan teoritis dan kerangka berpikir, hipotesis tindakan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan metode karya wisata maka keterampilan menulis cerpen siswa kelas IX I SMP Negeri I Cisurupan tahun pelajaran 2011/2012 Kabupaten Garut akan dapat mengalami peningkatan dan terjadi perubahan perilaku ke arah yang positif jika guru memanfaatkan metode karya wisata.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

  • Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah siswa kelas IX I di SMP Negeri I Cisurupan Tahun Pelajaran 2011/2012, dengan jumlah siswa 38 orang, yang terdiri 22 orang perempuan dan 16 orang laki-laki. Lokasi sekolah ini berada di Jalan Raya Cisurupan no. 154, kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Karakteristik subjek penelitian : bahwa siswa kelas IX I memiliki prestasi akademik yang rata-rata sama dengan kelas lainnya. Dan kelas IX I ini, kurang terampil menulis cerpen disebabkan ketidakpahaman siswa terhadap aspek kebahasaan, aspek nonkebahasaan dan aspek karya sastra. Pada aspek kebahasaan siswa tidak terampil menggunakan ejaan, pilihan kata (diksi), penyusunan kalimat yang efektif . Pada aspek nonhahasa, siswa belum terampil menyesuaikan isi dengan judul dan belum dapat menulis karangannya dengan rapi. Pada aspek cerpen, siswa baru mengenal cerpen sehingga siswa belum terampil merangkai peristiwa berdasarkan urutan waktu dan sulit menemukan ide cerita yang menarik, oleh karena itu diperlukan pembelajaran dengan metode karya wisata diharapkan dapat membantu kesulitan siswa dalam menulis cerpen tersebut.

 

 

  • Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain tindakan kelas menggunakan model Kemmis & Mc. Taggart. Kajian dilaksanakan dengan maksud untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan yang dilakukan serta memperbaiki kondisi-kondisi praktik pembelajaran sebelumnya. Praktik pembelajaran tersebut terbagi menjadi 3 (tiga) tahapan yakni prasiklus, siklus I dan siklus II. Siklus ini terdiri atas 4 (empat) komponen, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.

Adapun perincian tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini yang didasarkan setiap siklusnya adalah sebagai berikut:

  • Prasiklus (kondisi awal sebelum tindakan)

Berdasarkan pengalaman penulis selama mengajar tentang materi menulis cerpen, dapat disimpulkan bahwa kemampuan menulis cerpen dari para siswa SMP Negeri I Cisurupan Kab Garut masih rendah. Maka diawali dengan pretes terlebih dahulu, yakni berupa menulis cerpen dengan metode yang biasa digunakan ceramah dan Tanya jawab tentang pengalaman yang mengesankan dari siswa. Setelah mengetahui kondisi awal, kemudian dilakukan tindakan siklus I sebagai upaya perbaikan. Tindakan siklus II agar terjadi peningkatan hasil siswa.

  • Siklus ke I ( satu )

Proses penelitian tindakan kelas dalam siklus I dapat diuraikan sebagai berikut :

 

 

  1. Perencanaan

Pada tahap ini dipersiapkan rencana pengajaran dan rancangan evaluasi yang meliputi tes dan nontes. Dalam instrument tes, penulis mempersiapkan alat evaluasi yang akan digunakan pada saat tes perbuatan yang dilakukan oleh siswa. Instrumen nontes perlu dipersiapkan meliputi; (1) pedoman obsevasi (2) pedoman jurnal siswa (3) pedoman wawancara dan (4) mempersiapkan dokumentasi fhoto.

Pada kegiatan perencanaan ini penulis mengadakan kerjasama dengan guru mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang lainnya, dengan siswa  dalam observasi. Dengan rekan kerja dilakukan pada saat pemilihan objek wisata, pada waktu pemilihan hari dan tanggal dilaksanakannya penelitian dan perencanaan pelaksanaan. Dengan siswa dilakukan untuk mempersiapkan dan mengkondisikan siswa agar siap menerima materi pelajaran yang akan diberikan oleh penulis.

  1. Pelaksanaan Tindakan

Dalam pelaksanaan tindakan ini, kegiatan yang akan dilakukan oleh penulis meliputi tiga tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap tindak lanjut.

Tahap persiapan yaitu tahap mengkondisikan siswa untuk siap melaksanakan proses belajar. Misalnya guru menyapa siswa, menanyakan keadaan siswa, memancing siswa untuk tertarik terhadap materi yang akan di bahas. Tahap pelaksanaan yaitu tahap melaksanakan kegiatan belajar mengajar menulis cerpen. Tahap ini terbagi menjadi beberapa bagian yaitu :

  1. Siswa dibagi kelompok, tujuh kelompok terdiri atas lima siswa dan satu kelompok terdiri atas 4 siswa dan pengelompokan ditentukan oleh guru.
  2. Siswa dalam kelompoknya diminta mengamati kondisi lingkungan sekitar objek wisata Kawah Gunung Papandayan.
  3. Kelompok II dan III diminta untuk mengamati pepohonan, kemudian dibuat cerpen, dalam cerpen tersebut siswa bertindak sebagai aku (pohon) atau menceritakan kehidupan pohon dan tetangganya sesama pohon di Kawah Gunung Papandayan. Guru dapat memberikan pengarahan penekanan pada unsur pembangun cerpen yakni tokoh. Jadi pohon sebagai seorang tokoh.
  4. Kelompok I dan IV diminta untuk mengamati berbagai kawah yang berada di lokasi wisata, kemudian dibuatkan sebuah cerpen. Cerpen tersebut tidak terbatas pada kawah saja melainkan tebing dan bebatuan yang di sekiratnya, dapat dijadikan objek atau tokoh dalam cerpen. Latar merupakan unsur pembangun yang ditekankan di sini. Guru dapat memberikan gambaran setting/latar sekolah secara menarik.
  5. Kelompok V dan VII diminta mengamati pedagang yang ada di objek wisata. Siswa dapat berperan sebagai pedagang, pembelinya. Guru dapat mengarahkan siswa untuk bercerita dengan penekanan pada unsur penokohan.
  6. Kelompok VI dan VIII mengamati hutan yang berada di dekat objek wisata, rerumputan yang hijau, pohon-pohon yang mengelilingi, atau mereka yang bercocok tanam di sekitar objek wisata, kemudian dibuat cerpen. Guru dapat memberikan alur atau latar cerpen yang baik.
  7. Setiap kelompok berpencar menuju objek yang telah ditentukan.
  8. Siswa ditugasi untuk menulis sebuah cerpen
  9. Siswa berdiskusi dalam menyelesaikan hasil cerpennya.
  10. Secara bergiliran setiap kelompok membacakan hasil tulisannya. Siswa meringkas hasil yang diperoleh dalam pembelajaran menulis cerpen. Sebagai tindak lanjut siswa kembali berlatih menulis cerpen dengan memperbaiki kesalahan-kesalahannya.
  11. Pengamatan/Observasi

Pengamatan dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Penulis melakukan pengamatan dibantu oleh satu relawan . Pengamatan dilakukan secara keseluruhan terhadap siswa di lapangan dengan memberikan tanda chek list (√).

Observasi mengungkapkan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan pembelajaran pada hari ini. Sasaran meliputi sikap positif dan sikap negative. Sikap positif perhatian siswa terhadap penjelasan guru, keaktifan dalam kegiatan Tanya jawab, antusias dan serius dalam menulis cerpen, aktif dalam diskusi kelompok, bersemangat dalam mengerjakan tugas. Sedangkan sikap negatif, respon siswa kurang, tidak bersemangat dan cenderung malas-malasan, siswa banyak berbicara dengan temannya diluar materi dan bergurau dengan teman kelompoknya, atau sering melihat hasil pekerjaan temannya.

Selain itu diperlukan data nontes yaitu wawancara untuk mengetahui pendapat siswa di luar jam pembelajaran terhadap perwakilan siswa yang memperoleh nilai tinggi, cukup, dan kurang. Data nontes yang terakhir adalah dokumentasi foto digunakan sebagai laporan yang berupa gambar aktifitas selama mengikuti pembelajaran dan semua itu dijelaskan dalam bentuk deskripsi secara lengkap.

  1. Refleksi

Berdasarkan data hasil penelitian, penulis akan lebih tanggap terhadap segala yang menyangkut materi keterampilan menulis cerpen dengan metode karya wisata. Kesalahan dan kekurangan selama proses pembelajaran pada siklus I akan dapat diatasi pada pelaksanaan proses pembelajaran siklus II.

  • Siklus II ( dua )

Berdasarkan refleksi pada siklus I, maka pada siklus II ini akan dilakukan suatu perbaikan-perbaikan dan penyempurnaan mulai dari perencanaan sampai refleksi. Pada siklus II sama dengan siklus I terdiri perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi, tetapi ada beberapa kegiatan perbedaan pembelajaran pada siklus II yaitu:

  1. Perencanaan

Perencanaan dilakukan untuk memperbaiki dan menyempurnakan pembelajaran yang telah dilakukan pada siklus I. Dalam tahap perencanaan siklus II ini, penulis melibatkan guru mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia di objek wisata sebagai pengamat dalam proses pembelajaran menulis cerpen.

Perbaikan yang dilakukan pada siklus II ini meliputi: (1) melakukan diskusi dengan guru mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia rencana tindakan siklus II; (2) memperbaiki rencana pembelajaran, (3) menyiapkan objek wisata yang berbeda dengan siklus I; (4) mempersiapkan pedoman observasi, wawancara, lembar penilaian dan dokumentasi foto.

  1. Tindakan

Tindakan yang dilakukan peneliti dalam siklus II (1) memberikan umpan balik mengenai hasil yang diperoleh pada siklus I, (2) melaksanakan proses pembelajaran menulis cerpen dengan metode karya wisata sesuai rencana pengajaran, dan (3) memotivasi siswa agar berpartisipasi lebih aktif dan bersemangat dalam menulis cerpen.

Selain itu memberikan pemecahan masalah kesulitan yang dirasakan siswa dalam menulis cerpen tidak hanya mementingkan panjang karangan, melainkan juga memperhatikan ejaan, diksi, struktur kalimat, kepaduan paragraf, perangkaian peristiwa, kesesuaian judul dengan isi, kerapihan karangan dan menariknya ide cerita.

Tempat yang digunakan sebagai tempat pembelajaran berbeda dari siklus I. Oleh karena itu, tahap pelaksanaan kegiatannya juga agak berbeda. Tahap terbagi menjadi beberapa bagian seperti berikut:

  1. Peneliti mengumumkan hasil belajar yang telah dicapai pada siklus I
  2. Peneliti menanyakan kesulitan yang dihadapi siswa dalam menulis cerpen
  3. Siswa diberikan arahan dan bimbingan agar dalam pelaksanaan pembelajaran siklus II menjadi lebih baik
  4. Siswa diminta berkelompok ditentukan guru, berbeda dengan kelompok pada siklus I
  5. Kelompok I dan VIII diarahkan untuk mengamati aktifitas para pengunjung yang berada di lokasi Pemandian Cipanas Garut. Siswa dalam kelompok ini dapat bertindak menjadi tokoh utama sebagai aku atau sebagai pencerita pengunjung/wisatawan yang ada di sana.
  6. Kelompok II dan VII mengamati bangunan-bangunan yang berada di sekitarnya. Guru dapat mengarahkan mereka untuk dapat bercerita dalam cerpennya tentang latar sebuah bangunan itu.
  7. Kelompok III dan V diarahkan untuk berada di daerah pintu masuk. Mereka dapat menceritakan loket pembelian karcis masuk, orang yang mengantri masuk, sedang membeli makanan di kantin luar objek wisata atau menceritakan orang-orang yang bergerombol di luar dan antrian kendaraan serta kesibukan tukang parkir. Guru dapat memberikan gambaran tentang alur yang baik, agar siswa dapat membuat alur dalam cerpennya dengan menceritakan situasi di depan objek wisata Pemandian Cipanas Tarogong Kaler Garut.
  8. Kelompok IV dan V diarahkan untuk menceritakan Tempat. Mereka dapat bercerita tentang keberadaan lokasi pemandian Cipanas yang sangat dekat dengan pusat kota Garut. Kelompok yang lain dapat menceritakan khusus sumber air yang ada di dalam lokasi pemandian Cipanas Garut tersebut.
  9. Setiap kelompok berpencar menuju objek yang telah ditentukan, namun mereka tetap dalam satu kelompok.
  10. Siswa ditugakan menulis sebuah cerpen.
  11. Siswa berdiskusi dalam menyelesaikan hasil cerpennya
  12. Diakhir pembelajaran guru memberikan penguat kepada siswa dengan memberikan hadiah kepada siswa terbaik
  13. Pengamatan/Observasi

Pada siklus II ini dilakukan sama seperti pengamatan siklus I. Data  siklus II diperoleh melalui tes yang digunakan untuk mengetahui keterampilan siswa dalam menulis cerpen. Serta peningkatannya selama pembelajaran dua siklus.

Peneliti melakukan wawancara terhadap beberapa  siswa di luar jam pembelajaran yang dijadikan sampel, yaitu siswa yang mendapat nilai tinggi, sedang dan siswa yang mendapat nilai rendah. Hal ini untuk mengetahui sikap positif dan negatif siswa dalam kegiatan pembelajaran menulis cerpen.

Selain itu menggunakan dokumentasi foto, sebagai laporan berupa gambar nyata aktifitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

  1. Refleksi

Peneliti merefleksi perubahan-perubahan sikap dan peningkatan keterampilan menulis cerpen pada setiap siswa dengan cara menganalisis hasil observasi terhadap siswa selama proses pembelajaran siklus II berlangsung.

  • Instrumen Penelitian

Instrumen dalam penelitian ini bentuknya tes dan nontes.Soal tes digunakan untuk mengungkap data tentang keterampilan menulis cerpen siswa. Soal nontes (lembar observasi, lembar wawancara, dan dokumentasi) untuk mengungkapkan perubahan tingkah laku siswa.

  • Instrumen Tes

Tes dalam penelitian ini bentuknya menulis cerpen. Pemberian tes terbagi dalam tiga tahap yani tahapan prasiklus, siklus I dan siklus II. Tes pada tahapan prasiklus menulis cerpen dengan metode yang biasa digunakan guru. Pada tes siklus I dan siklus II menulis cerpen menggunakan metode karya wisata. Siklus I dan II perbedaannya hanya objek tempat menulis sehingga menyebabkan perbedaan objek penulisan cerpen siswa. Nilai akhir karangan adalah jumlah skor siswa yang diperoleh dari jumlah masing-masing aspek yang dinilai dibagi skor maksimal sikalikan seratus. Alasan skor semua aspek sama salah satunya agar siswa mampu menulis cerpen dengn memperhatikan aspek penulisan cerpen.

Aspek yang dimaksud meliputi aspek kebahasaan dan kesusastraan. Aspek kebahasaan meliputi ; isi, kosakata, struktur kata atau kalimat.Sedangkan aspek kesusastraan; alur(plot), penokohan, latar(setting), sudut pandang (point of view), gaya bahasa (style) dan tema.Penjelasan secara rinci berkaitan dengan Penskoran tiap aspek dapat dilihat pada table berikut:

 

 

Tabel 1 Skor Penilaian

No Aspek Karangan Rentang Skor Skor Maksimal
1 2 3 4 5
         Aspek Kebahasaan
1 isi 5
2 Struktur 5
3 Kosakata (diksi) 5
4 Penulisan (kerapihan) 5
         Aspek Kesusastraan
5 Alur 5
6 Tokoh dan penokohan 5
7 Latar (setting) 5
8 Sudut Pandang 5
9 Gaya Bahasa 5
10 Tema 5
         Jumlah 50

 

Keterangan:

Sangat Baik (SB) :  Skor 5,  Baik (B) : skor 4, Cukup (C) : skor 3, Kurang (K): 2, Sangat Kurang (SK): Skor 1.

Adapun gambaran criteria nilai dan kategori pada masing-masing aspek penilaian adalah :

Tabel 2 Pedoman Penilaian

No Aspek penilaian Skor Tingkat Batasan
1 Isi 5 Sangat baik Amat baik memahami, luas dan lengkap,terjabarkan, sesuai judul
4 Baik Baik dalam memahami, luas dan lengkap, terjabarkan, sesuai judul
3 cukup Cukup memahami, luas dan lengkap,terjabarkan,sesuai judul
2 kurang Kurang memahami, luas dan lengkap, terjabarkan, sesuai judul
1 Sangat kurang Sangat kurang memahami, luas dan lengkap,terjabarkan, sesuai judul
2 Organisasi/Struktur 5 Sangat baik Amat teratur dan rapi,jelas, kaya akan gagasan, urutan logis
4 baik Baik teratur dan rapi,jelas, kaya akan gagasan, urutan logis
3 cukup Cukup teratur dan rapi, jelas, kaya akan gagasan, urutan logis
2 kurang Kurang teratur dan rapi, jelas, kaya akan gagasan, urutan logis
1 Sangat kurang Sanga kurang teratur dan rapi, jelas, kaya akan gagasan, urutan logis
3 Kosakata 5 Sangat baik Amat luas, kata amat efektif, menguasai pembentukan kata, pemilihan kata amat tepat.
4 baik Baik dalam,penggunaan kata  efektif, menguasai pembentukan kata, pemilihan kata  tepat
3 cukup Cukup luas dalam,penggunaan kata efektif, menguasai pembentukan kata, pemilihan kata  tepat
2 Kurang Kurang luas,penggunaan kata efektif, menguasai pembentukan kata, pemilihan kata kurang tepat
1 Sangat kurang Sangat kurang luas, penggunaan kata efektif, menguasai pembentukan kata, pemilihan kata kurang tepat
4 Penulisan 5 Sangat baik Amat menguasai kaidah penulisan kata dan ejaan
4 baik Baik dalam menguasai kaidah penulisan kata dan ejaan
3 Cukup cukup menguasai kaidah penulisan kata dan ejaan
2 Kurang kurang menguasai kaidah penulisan kata dan ejaan
1 Sangat kurang Sangat kurang menguasai kaidah penulisan kata dan ejaan
5 Alur(plot)

 

5 Sangat baik Amat baik merangkai peristiwa yang memiliki hubunngan sebab akibat, baik melibatkan konflik, baik mengarahkan pada klimaks, baik membentuk resolusi.
4 Baik  baik merangkai peristiwa yang memiliki hubunngan sebab akibat, baik melibatkan konflik, baik mengarahkan pada klimaks, dan baik membentuk resolusi.
3 cukup Cukup merangkai peristiwa yang memiliki hubunngan sebab akibat, baik melibatkan konflik, baik mengarahkan pada klimaks, baik membentuk resolusi.
2 kurang Kurang baik merangkai peristiwa yang memiliki hubunngan sebab akibat, baik melibatkan konflik, baik mengarahkan pada klimaks, baik membentuk resolusi.
1 Sangat kurang Amat kurang baik merangkai peristiwa yang memiliki hubunngan sebab akibat, baik melibatkan konflik, baik mengarahkan pada klimaks, baik membentuk resolusi.
6 Tokoh /penokohan 5 Sangat baik Amat baik member tahu pembaca lewat tokoh dan penokohannya, meminta tokoh bercerita kepada pembaca,menggunakan tindakan tokoh
4 baik Amat baik member tahu pembaca lewat tokoh dan penokohannya, meminta tokoh bercerita kepada pembaca,menggunakan tindakan tokoh
3 cukup Cukup  member tahu pembaca lewat tokoh dan penokohannya, meminta tokoh bercerita kepada pembaca,menggunakan tindakan tokoh
2 kurang kurang member tahu pembaca lewat tokoh dan penokohannya, meminta tokoh bercerita kepada pembaca,menggunakan tindakan tokoh
1 Sangat kurang Sangat kurang member tahu pembaca lewat tokoh dan penokohannya, meminta tokoh bercerita kepada pembaca,menggunakan tindakan tokoh

 

No Aspek penilaian Skor Tingkat Batasan
7 Latar/ setting 5 Sangat baik Amat baik dalam memilih tempat yang mengukuhkan tempat terjadinya peristiwa, memilih waktu yang memiliki tampakan dan atmosfer dan melakukan penyuntingan untuk melakukan setting.
4 baik  baik dalam memilih tempat yang mengukuhkan tempat terjadinya peristiwa, memilih waktu yang memiliki tampakan dan atmosfer dan melakukan penyuntingan untuk melakukan setting.
3 cukup cukup dalam memilih tempat yang mengukuhkan tempat terjadinya peristiwa, memilih waktu yang memiliki tampakan dan atmosfer dan melakukan penyuntingan untuk melakukan setting.
2 kurang kurang dalam memilih tempat yang mengukuhkan tempat terjadinya peristiwa, memilih waktu yang memiliki tampakan dan atmosfer dan melakukan penyuntingan untuk melakukan setting.
1 Sangat kurang Amat kurang dalam memilih tempat yang mengukuhkan tempat terjadinya peristiwa, memilih waktu yang memiliki tampakan dan atmosfer dan melakukan penyuntingan untuk melakukan setting.
8 Sudut Pandang 5 Sangat baik Amat baik dalam memberikan perasaan pendekatan tokoh, menjelaskan kepada pembaca siapa yang dituju, dan menunjukkan perasaan tokoh kepada pembaca
4 baik Amat baik dalam memberikan perasaan pendekatan tokoh, menjelaskan kepada pembaca siapa yang dituju, dan menunjukkan perasaan tokoh kepada pembaca
3 cukup Amat baik dalam memberikan perasaan pendekatan tokoh, menjelaskan kepada pembaca siapa yang dituju, dan menunjukkan perasaan tokoh kepada pembaca
2 kurang Amat baik dalam memberikan perasaan pendekatan tokoh, menjelaskan kepada pembaca siapa yang dituju, dan menunjukkan perasaan tokoh kepada pembaca
1 Sangat kurang Amat baik dalam memberikan perasaan pendekatan tokoh, menjelaskan kepada pembaca siapa yang dituju, dan menunjukkan perasaan tokoh kepada pembaca
9 Gaya bahasa 5 Sangat baik Amat baik memilih bahasa yang mengandung unsur emotif dan bersifat konotatif, mengedepankan aktualitas sesuatu yang diutarakan dan memilih ungkapan yang dirasa mewakili yang diungkapkan.
4 baik baik memilih bahasa yang mengandung unsur emotif dan bersifat konotatif, mengedepankan aktualitas sesuatu yang diutarakan dan memilih ungkapan yang dirasa mewakili yang diungkapkan.
3 cukup cukup memilih bahasa yang mengandung unsur emotif dan bersifat konotatif, mengedepankan aktualitas sesuatu yang diutarakan dan memilih ungkapan yang dirasa mewakili yang diungkapkan.
2 kurang kurang memilih bahasa yang mengandung unsur emotif dan bersifat konotatif, mengedepankan aktualitas sesuatu yang diutarakan dan memilih ungkapan yang dirasa mewakili yang diungkapkan.
1 Sangat kurang Amat kurang memilih bahasa yang mengandung unsur emotif dan bersifat konotatif, mengedepankan aktualitas sesuatu yang diutarakan dan memilih ungkapan yang dirasa mewakili yang diungkapkan.
10 Tema 5 Sangat baik Amat baik mendeskripsikan pernyataan tema yang ditawarkan kepada pembaca, menyajikan tema dari kesimpulan keseluruhan cerita dan memilih serta mengangkat masalah kehidupan.
4 baik baik mendeskripsikan pernyataan tema yang ditawarkan kepada pembaca, menyajikan tema dari kesimpulan keseluruhan cerita dan memilih serta mengangkat masalah kehidupan.
3 cukup cukup mendeskripsikan pernyataan tema yang ditawarkan kepada pembaca, menyajikan tema dari kesimpulan keseluruhan cerita dan memilih serta mengangkat masalah kehidupan.
2 kurang kurang mendeskripsikan pernyataan tema yang ditawarkan kepada pembaca, menyajikan tema dari kesimpulan keseluruhan cerita dan memilih serta mengangkat masalah kehidupan.
1 Sangat kurang Amat kurang mendeskripsikan pernyataan tema yang ditawarkan kepada pembaca, menyajikan tema dari kesimpulan keseluruhan cerita dan memilih serta mengangkat masalah kehidupan.

 

Pengolongan penilaian keterampilan menulis cerpen dibuat sebagai berikut:

Tabel 3 Uraian Kategori dan Rentang Nilai Akhir

No Kategori Rentang Nilai
1     Sangat baik 85 – 100
2     baik 70 – 84
3     cukup 60 – 69
4     kurang 50 – 59
5     Sangat kurang 0        – 49

 

  • Instrumen Nontes

Instrumen nontes terdiri atas lembar observasi, pedoman wawancara, dan dokumentasi. Masing-masing diuraikan di bawah ini.

  1. Lembar Observasi

Pengamatan dilakukan untuk mengetahui perilaku siswa selama proses pembelajaran dan ketepatan guru dalam menyampaikan materi dengan metode yang telah direncanakan. Sasaran meliputi sikap positif dan sikap negatif. Sikap positif meliputi; (1) perhatian siswa penuh terhadap penjelasan guru, (2) siswa aktif dalam kegiatan Tanya jawab dengan guru,(3) siswa antusias dan serius dalam menulis cerpen. (4) siswa aktif dalam diskusi kelompok,(5) siswa bersemangat dalam mengerjakan tugas dari guru. Sedangkan sikap negatif antara lain; (1) respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran kurang, (2) siswa tidak bersemangat dan cenderung malas-malasan dalam kegiatan pembelajaran,(3) siswa banyak berbicara sendiri dan bergurau dengan teman kelompoknya, (4) siswa kurang bersemangat dalam menulis cerpen, (5) siswa sering melihat pekerjaan temannya.

  1. Pedoman Wawancara

Pelaksanaan wawancara diambil dua siswa yang termasuk prestasi menulisnya kurang, dua siswa yang nilainya cukup, dua siswa yang nilainya baik. Pertanyaan dalam pedoman wawancara pada siklus I dan II adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana tanggapan kalian terhadap guru dalam menyampaikan materi pembelajaran ?
  2. Bagaimana sikap kalian berkenaan dengan pembelajaran menulis cerpen dengan metode karya wisata ?
  3. Apakah kalian mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru ?
  4. Apa kesan kalian dengan metode karya wisata yang digunakan dalam pembelajaran metode karya wisata?
  5. Apa keuntungan yang kalian perolah dari pembelajaran menulis cerpen dengan metode karya wisata?
  6. Saran apa yang kalian berikan terhadap pembelajaran menulis cerpen dengan metode karya wisata?
  7. Apakah ada perbedan belajar didalam kelas dengan diluar kelas?
  8. Apa harapan kalian terhadap pembelajaran menulis cerpen pada masa yang akan datang?

Secara garis besar pertanyaan dalam pedoman wawancara siklus II hamper sama dengan siklus I, perbedaannya disebabkan pada siklus II siswa sudah dua kali mengikuti pembelajaran dengan metode karya wisata. Pertanyan-pertanyan tersebut adalah :

  1. Apakah kalian masih merasa kesulitan dengan materi penulisan cerpen ? apa alasannya ?
  2. Apakah kalian menjadi senang dewngan pembelajaran menulis cerpen ? apa alasannya ?
  3. Bagaimana perasaan kalian berkaitan pembelajaran dengan metode karya wisata yang dibunakan dalam pembelajaran menulis cerpen ?
  4. Dokumentasi

Dokumen ini dipilih dengan tujuan untuk memperkuat hasil penelitian dalam proses pembelajaran menulis cerpen dapat dijadikan gambaran perilaku siswa. Dan sebagai sarana untuk menjelaskan keruntutan penelitian dari awal sampai akhir sehingga penelitian tersebut dapat dipertanggungjawabkan.

Aspek-aspek yang di dokumentasikan maliputi aktifitas yang dilakukan oleh guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung, yaitu; (1) ketika guru sedang menyampaikan materi pembelajaran menulis cerpen,(2) keaktifan siswa selama proses pembelajaran berlangsung, (3)keaktifan siswa sedang menulis cerpen, (4) ketika siswa melakukan diskusi dengan kelompoknya, (5), ketika siswa sedang membacakan cerpen hasil pekerjaannya.

 

  • Teknik Pengumpulan Data
    • Teknik Tes

Dalam tes siswa diminta menulis cerpen sebanyak tiga kali yakni, prasiklus, siklusI dam siklus II. Hasil tes dapat digunakan untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran yang telah ditentukan baik dalam program satuan pembelajaran maupun dalam rencana pengajaran.Dalam hal ini peneliti menetapkan tingkat keberhasilan pembelajaran menulis cerpen siklus I dan II, apa bila siswa mencapai nilai minimal 70 yang berkategori baik.

  • Teknik Nontes

Pengumpulan data dengan teknik nontes dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi foto.

  1. Observasi

Pengamatan dilakukan untuk mengetahui sikap, perilaku dan respon siswa terhadap pembelajaran dengan metode karya wisata. Dalam pengamatan ini, dibantu dengan pedoman observasi yang telah dibuat sebelumnya. Pada prakti pengamatan hanya member tanda chek list (√ ) pada pedoman observasi yang telah dibuat. Hasilnya dianalisis dan dideskripsikan dalam bentuk uraian kalimat sesuai dengan perilaku nyata yang ditunjukan siswa selama proses pembelajaran.

  1. Wawancara

Kegiatan wawancara dilakukan dengan tujuan memperolah data melalui Tanya jawab. Sasaran wawancara adalah para siswa yang nilanya sangat kurang, cukup dan sangat baik dalam menulis cerpen. Hal ini berdasarkan nilai tes pada tiap siklus dan berdasarkan observasi yang dilakukan guru selama pembelajaran.

  1. Dokumentasi

Penelitian ini mengunakan dokumentasi berupa foto saat penelitian berlangsung. Gambar ini menghasilkan data yang sutentik karena pengambilan foto tersebut dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung, sehingga aktifitas siswa akan terekam dalam foto.

  • Teknik Analisis Data

Teknik analisi data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Uraian tentang teknik kuantitatif dan kualitatf sebagai berikut:

  1. Teknik kuantitatif

Untuk menganalisis data kuantitatif diperoleh dari hasil tes menulis cerpen dengan topik pengalaman pribadi yang mengesankan yang pembelajarannya dengan menggunakan metode karya wisata melalui siklus I dan siklus II.

Skor komulatif dari seluruh aspek, menghitung skor rata-rata dan menghitung prosentase dengan rumus sebagai berikut:

 SK

SP =     —————      X   100%

                                  R

 

Keterangan :  SP  :  Skor Presentase  , SK  : Skor Komulatif,  R  : Jumlah responden.

Hasil penghitungan tes tersebut dari masing-masing tes kemudian dibandingkan, sehingga diketahui peningkatan keterampilan menulis cerpen dengan metode karya wisata.

  1. Teknik Kualitatif

Langkah-langkah analisis data kualitatif yaitu; (1) menganalisis lembar observasi yang telah diisi saat pembelajaran dan mengklarifikasikanya dengan teman yang membantu penelitian, (2) menganalisis data wawancara dengan cara membaca kembali hasil wawancara,(3) menganalisis data dokumentasi dengan cara mendeskripsikan gambar.

Teknik kualitatif ini akan memberikan gambaran mengenai siswa yang mengalami kesulitan dalam menulis cerpen dengan metode karya wisata, kemudian siswa tersebut dijadikan objek wawancara. Kegiatan ini diharapkan dapat mengatasi kesulitan siswa agar yang bersangkutan dapat meningkatkan kemampuan menulis cerpen dengan metode karya wisata.

 

 

 

Kata Pengantar

 

Saat ini masih sering menemukan tulisan-tulisan yang kurang sesuai dengan pedoman penulisan yang baik dan benar yaitu sesuai ejaan yang di sempurnakan (EYD), baik penulisan tanda baca, huruf, kata, singkatan, struktur kata, unsur serapan baik dari daerah atau serapan bahasa asing, penulisan istilah, keefektipan kalimat maupun kesinambungan antar paragraf. Dari observasi dan pengamatan yang dilakukan penulis banyak orang berasumsi bahwa menulis merupakan bagian yang paling tinggi tingkat kesulitannya termasuk membuat karya tulis.

Keterampilan menulis yang baik dapat diperoleh dengan cara berlatih secara berulang-ulang dan memerlukan waktu yang tidak sebentar, mengingat kegiatan menulis itu sangat komplek dalam arti melibatkan berbagai keterampilan untuk mengungkapkan ide-ide atau gagasan-gagasan, pikiran, pengetahuan bahkan pengalaman-pengalaman hidup dalam bahasa tulis yang jelas (runtun, efesien, skspresif dan mudah dipahami). Dalam kegiatan pembelajaran menulis, siswa diarahkan untuk mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tulis, maka dalam hal ini guru sangat berperan untuk peningkatan kemampuan menulis siswa di sekolah baik yang bersifat ilmiah maupun imajinatif.

Melalui kegiatan menulis diharapkan siswa dapat menuangkan gagasannya dengan baik melalui metode yang tepat sehingga potensi dan daya kreatifitas siswa dapat tersalurkan. Selama ini metode yang digunakan yaitu metode konvensional ceramah tanpa disertai upaya-upaya dari guru guna menarik perhatian siswa, sehingga terkesan membosankan, kurang membantu menumbuhkan minat belajar  dan hasil karyanya kurang maksimal.

Upaya meningkatkan keterampilan menulis dalam hal ini menulis cerpen dengan menghadapkan siswa pada objek nyata yaitu melalui metode karya wisata, mengajak siswa kesuatu tempat akan lebih mudah mendapatkan imajinasi sekaligus terangsang pemikirannya untuk mengadakan pengamatan yang nantinya akan dijadikan bahan penulisan cerpen.

Harapan penulis, dengan adanya penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan keterampilan siswa dalam hai ini menulis cerpen. Bagi guru, sebagai upaya untuk memotivasi siswa dalam kemampuan menulis sehingga prestasi siswa meningkat.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Aminudin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Malang: Yayasan Asah Asih Asuh.

 

Anderson, Roland H. 1994. Pemilihan dan Pengembangan Media untuk Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

 

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

 

Diknas. 2002. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta: Dirjen Dikdasmen Diknas.

 

Djamarah,Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 1995. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

 

Jamaludin. 2003. Problematika Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: Andi Yogyakarta.

 

Keraf,Gorys. 2004. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

 

Nurgiantoro, Burhan. 1994. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada Inuversity Press.

 

Nurhayati. 2000. Pembelajaran Menulis. Jurnal Ilmiah. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

 

Nursisto. 1999. Penuntun Mengarang. Yogyakarta: Adicita

 

Rahmanto. 1997. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.

 

Sudjiman. 1992. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Aksara Baru.

 

Sugandi, Ahmad, dkk. 2004. Teori Pembelajaran. Semarang: UPT MKK UNNES.

 

Sumardjo, Jakob. 1998. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: PT Gramedia.

 

Tarigan, Henry Guntur. 1986. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

 

Wiyanto, Asnul. 2004. Menulis Paragraf. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana

 

Silahkan klik => Contoh artikel dan Surat Lainnya

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s